Wednesday, March 21, 1990

“OKNUM BRIMOB BAYARAN BACKING PENGUSIRAN PAKSA MASYARAKAT NAGARI KAPA DARI TANAH ULAYATNYA”

SIARAN PERS

“OKNUM BRIMOB BAYARAN BACKING PENGUSIRAN PAKSA MASYARAKAT NAGARI KAPA DARI TANAH ULAYATNYA”


Perlindungan dan pengayoman merupakan tugas yang diberikan oleh negara kepada Institusi Polri, namun hingga saat ini belum dirasakan oleh masyarakat Nagari Kapa, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat. Rasa aman masyarakat Kapa kembali terusik, ketika dua orang oknum Brimob yang mengaku dari Polda Sumbar menjadi pembacking dalam pengusiran dan penanaman paksa kelapa sawit yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sidodadi yang dipimpin oleh Bahar A diatas lahan perladangan 180 KK masyarakat nagari Kapa, seluas 280 Ha yang merupakan tanah ulayatnya sendiri.

Sejak tanggal 8 Maret 2006 hingga saat ini, keberadaan Brimob di nagari Kapa menimbulkan ketakutan bagi masyarakat nagari Kapa yang sedang berladang diatas tanah ulayatnya. Hampir setiap hari dua orang Brimob tersebut melakukan tindakan intimidasi, diteror dan ancaman kepada masyarakat nagari Kapa agar mengosongkan lahan dan tidak menghalangi penanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sidodadi yang dipimpin oleh Bahar A.

Tindakan dua orang Brimob ini juga telah beberapa kali melepas tembakan di depan masyarakat (petani) guna untuk menakut-nakuti masyarakat yang sedang berladang. Pada tanggal 11 Maret 2006 dua orang oknum Brimob kembali melepaskan tembakan, dua selongsong pelurunya berhasil didapatkan masyarakat dengan nomor PIN 5.56.00 jenis peluru timah tajam. Pada tanggal 11 Maret 2006 dua orang oknum Brimob juga melnangkapan salah seorang masyarakat Kapa yang bernama Rosman yang di bawa ke Polres Pasaman dan kemudian dilepaskan kembali dengan membuat surat perjanjian untuk mengulangi perbuatannya. Sedangkan pada tanggal 14 Maret 2006 terjadi pembakaran pondok-pondok dan perusakan tanaman milik masyarakat.

Tindakan premanisme dari Brimob bayaran ini, bukan hal yang baru dan pertama kali terjadi di nagari Kapa. Tindakan seperti ini telah terjadi semenjak tahun 2000, 2003 dan tahun 2006 dengan modus dan pelaku yang sama yaitu pengusiran masyarakat nagari Kapa yang berladang diatas tanah ulayat oleh Kelompok Tani Sidodadi yang dipimpin Bahar A dengan dibacking oleh aparat kepolisian dan Brimob.

Tindakan dua orang oknum Brimob yang menjadi pembacking dalam penanaman paksa kelapa sawit dan pengusirang paksa masyarakat nagari Kapa yang sedang berladang diatas tanah ulayatnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan fungsi dan tugas kepolisian sendiri yakni untuk memberikan perlindungan, rasa aman dan pengayoman kepada masyarakat sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang kepolisian. Begitu pula halnya dengan tindakan mereka yang melakukan intimidasi, terror dan kekerasan bahkan sampai terjadinya pembakaran pondok-pondok dan perusakan tanaman milik masyarakat merupakan tindakan pelanggaran terhadap HAK ASASI MANUSIA (HAM) baik hak sipil politik maupun pelanggaran terhadap hak ekonomi, social dan budaya yang diatur dalam Konvenan internasional tentang hak sipil politik dan hak ekosob, UUD 1945, UU No. 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia.

Berdasarkan hal diatas, maka kami masyarakat nagari Kapa yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Mekar yang merupakan anggota dari Persatuan Persaudaraan Tani Nelayan Nusantara (P2TANRA) Sumbar menyatakan sikap sebagai berikut :

Mengecam dan mengutuk keras tindakan dua orang aparat kepolisian (brimob) yang terlibat dalam perampasan dan pengusiran paksa masyarakat Kapa yang berladang diatas tanah ulayatnya sendiri yang disertai dengan tindakan intimidasi, terror dan kekerasan terhadap masyarakat.
Mendesak Kapolda Sumbar Cq Direktur Provost dan pengamanan (propam) Polda Sumbar untuk menghentikan tindakan intimidasi, terror dan kekerasan terhadap masyarakat nagari Kapa sekaligus melakukan tindakan tegas terhadap aparat kepolisian (brimob) yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Mendesak Kapolres Kab. Pasaman Barat untuk melakukan pemeriksaan secara hukum terhadap Bahar A merupakan dalang dari kelompok Tani Sidodadi yang diduga kuat telah menyewa dan membayar aparat kepolisian (brimob) untuk melakukan intimidasi, terror dan kekerasan terhadap masyarakat Kapa.

Demikianlah pernyataan sikap ini, kami sampaikan atas bantuan dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Padang, 16 Maret 2006

Hormat Kami,

Atas Nama Masyarakat Kapa
(OTL Tunas Mekar)


1. Zuldasri 2. Zulkifli 3. Yulisman


Diketahui oleh.

Pengurus P2TANRA Sumbar Petani MANDIRI

Ir Nasril Rajo Nan Kayo Solikin
Ketua P2TANRA Sumbar Sekjen Petani MANDIRI







Kronologis Kasus Tindakan Brimob Di Nagari Kapa Kec. Lubuak Nan Duo Kab. Pasaman

Pada tahun 2006, kekerasan aparat kembali terjadi terhadap masyarakat nagari Kapa yang tergabung dalam Organisasi Tani Lokal Tunas Mekar. Kelompok Tani Sidodadi yang dipimpin oleh Bahar A kembali melakukan penanaman kelapa sawit secara paksa dan mengusir 180 KK masyarakat nagari yang telah bertahun-tahun mengolah tanah ulayatnya sendiri. Pengusiran dan penanaman paksa kelapa sawit ini di backing oleh dua orang oknum Brimob dan beberapa orang preman bayaran.

Gambaran singkat kronologis kejadiannya sebagai berikut :

Tanggal 8 Maret 2006
Kelompok Tani Sidodadi melakukan pemancangan untuk melakukan penanaman Sawit diatas lahan pertanian masyarakat Kapa. Pemancangan ini digagalkan oleh masyarakat secara bersama-sama dengan mencabut dan memindahkan bibit Kelapa Sawit yang ditarok diatas tanah garapan masyarakat. Melihat adanya pencegahan terhadap penanaman tersebut, 1 orang oknum Brimob datang ke tanah pertanian masyarakat dan melepaskan satu kali tembakan yang bertujuan untuk menakut-nakuti masyarakat.

Tanggal 10 Maret 2006
Sekitar jam 10.30 Wib Oknum Brimob melepaskan tembakan sebanyak tiga kali, tembakan ini membuat trauma kaum ibu yang sedang bekerja diladang. pada hari ini masyarakat secara bersama-sama mencoba melihat dari dekat dimana tembakan itu terdegar, masayarakat menemukan 3 orang buruh tanam, 2 orang pemborong melakukan penanaman, dan secara bersama-sama masyarakat meminta kepada buruh tersebut, untuk menghentikan penanaman. Sedang terjadinya dialoh antara masyarakat dengan pemborong tiba-tiba datang 1 orang Oknum Brimob dengan mengendarai Motor Zuzuki TS dan menghampiri kerumunan tersebut sambil mengatakan “keluar dari lahan jagan ganggu penanaman ini”. Ditengah ketakutan melihat kedatangan Oknum Brimob tersebut, salah satu masyarakat mencoba mencari tahu atas dasar apa kehadiran Brimob tersebut, Brimob tersebut dengan nada suara keras dia menjawab bahwa dia mendapat perintah dari komandan untuk megamankan penanaman tersebut.

Tanggal 11 Maret 2006
Atas permintaan Kelompok tani Sidodadi untuk membicarakan masalah sengketa yang terjadi tersebut, masyarakat mengutus 6 orang perwakilan dan dalam pertemuan tersebut, Kelompok Tani Sidodadi menyampaikan bahwa akan melakukan penanaman karena kebun yang berasal dari tanah ulayat tersebut sudah terjual kemasyarakat yang secara Adat tidak berhak atas tanah tersebut, (masyarakat diluar masyarakat Nagari Kapa). Penjualan Tanah Ulayat yang berkedok Kelompok Tani ini.

Menurut Bahar A, mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah. Keiginan masyarakat untuk memiliki hak atas tanah ladang yang sejak tahun 2000, ditantang oleh Bahar.A, karena Kelompok Tani Sidodadi dalam melajutkan penanaman mendapat tambahan pinajaman dana dari bank BPD dan Bank BNI Cabang Simpang Empat sekitar + 4,5 Milyar. Karena tidak ada hasil dari pertemuan tersebut, Penanaman paksa dibawah pengamanan Oknum Brimob tersebut dihentikan oleh serombongan ibi-ibu dengan mencabut kembali tanaman sawit yang sudah ditanam, pada saat itulah masyarakat mendapat perlawanan dari dua orang oknum Brimob dengan melepaskan tembakan kesekumpulan ibu-ibu sebanyak 3 kali dan diiringi dengan tembakan-tembakan berikutnya, pada hari itu satu pondok masyarakat dibakar dan ditangkapnya Sdr. Rosman bersama istri dan anaknya yang dibawa ke Polres Pasaman. Rosman Kemudian dilepaskan setelah menanda tangani surat perjanjian yang isinya ”tidak ada mengulangi perbuatannya”. Atas tembakan yang dilakukan oleh oknum Brimob tersebut masyarakat berhasil mendapat dua selongsong peluru dengan nomor PIN 5.56.00 dan foto oknum Brimob yang bersangkutan.

14 Maret 2006
kembali lagi masyarakat di kejutkan dengan 10 letusan peluru yang muntah dari senjata 2 orang Oknum Brimob, dan diiringi dengan kekuatan preman bayaran Bahar A melakukan pembakar pondok-pondok masayarakat, 3 pondok masayarakat hangus kebakar. Kejadian ini membuat masyarakat menjadi histeris karean penegakan hukum yang semestinya dilakukan oleh aparat kepolisian, tetapi di Nagri Kapa malah terbalik seseorang dapat melakukan pelangaran hukum dibawah pengawalan Oknum Brimob. Hukum dan aparat penegaknya menjadi dagangan, seperti pengakuan dua orang Oknum Brimob bayaran Bahar A ini kepada ibu NUR EYNAH kami disini dibayar untuk mengawal penanaman kelapa sawit ditanah ibu-ibu ini dibayar oleh Bahar A Cs, mulai dari komandan kami (tidak disebutkan nama dan pangkat). maka siapa yang berani membayar tidak mendapat sangsi hukum, seperti preman-preman bayaran Bahar A, dengan segaja melakukan pembakaran. uang memang membuat orang lupa segala-galanya, bisa lupa dengan orang tua, keluarga, seperti SIAP karena bayaran yang diterima dari Bahar A, SIAP berani mengusir orang tua kandungnya yaitu IJAS dan MANSUR yang juga ikut berladang diatas tanah ulayat yang akan ditanami Kelapa sawit oleh Kelompok Tani Sidodadi tersebut.



Salam

Vino Oktavia. M
Koordiv. Hak Ekosob LBH Padang

0 Comments:

Post a Comment

<< Home